Jumat, 04 Maret 2011

Pengertian, Sejarah, dan Peran Entrepreneurship Dalam Peningkatan Kesejahteraan


A.    Sejarah Kewirausahaan
a.       Periode Awal
Contoh definisi palinh awal dari pengusaha sebagai sebuah go-between adalah Marco Polo, yang mencoba untuk mengembangkan rute perdagangan hingga Timur jauh. Sebagai seorang yang go-between, Marco Polo akan menandatangani kontrak dengan pemilik uang (pelopor adanya modal Ventura saat ini) untuk menjual barangnya. Kontrak yang umum pada periode tersebut adalah memberikan pinjaman kepada pedagang-pengembara pada tingkat 22,5 %, termasuk asuransi. Sementara sikapitalis menanggung resiko secara pasif, pedagang-pengembara mengambil peran yang aktif dalam perdagangan dengan menanggung seluruh resiko fisik dan emosional ketika pedagang-pengembang sukses dalam menjual dan menyelesaikan perdagangannya, keuntungan yang diperoleh akan dibagi, dimana sikapitalis akan mengambil bagian yang paling besar (sampai 75%), sementara si pedagang-pengembara akan menerima 25% sisanya.
b.      Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan, istilah pengusaha sudah digunakan untuk menggambarkan pelaku maupun orang yang mengelola proyek produksi besar. Pada proyek-proyek seperti itu orang ini tidak mengambil resiko apa-apa, melainkan mengelola proyek dengan sumber daya yang disediakan, biasanya oleh pemerintah suatu Negara. Suatu jenis pengusaha pada abad pertengahan adalah Klerek (Clerec- orang yang ditugasakan untuk pekerjaan arsitektur, seperti kastil dan menara, gedung-gedung umum, dan katedarla).
c.       Abad ke-17
Munculnya kembali kaitan antara resiko dengan kewirausahaan berkembang pada abad ke 17, dimana pengusaha adalah orang yang menjalankan kerjasama dengan pemerintah untuk menyediakan jasa atau produk yang ditentukan. Karena harga kontrak telah ditentukan maka setiap laba dan rugi yang terjadi menjadi milik pengusaha. Salah satu pengusaha pada periode ini adalah John Law asal Perancis yang diijinkan untuk mendirikan sebuah bank kerajaan. Bank tersebut kemudian berkembang menjadi wara laba eksklusif untuk membuat sebuah perusahaan dagang di dunia baru-the mississipi company. Sayangnya, monopoli atas perdagangan Prancis ini mendorong kejatuhan Law ketika ia berusaha mendongkrak lebih tinggi harga saham daripada nilai asetnya, yang kemudian berakibat pada kejatuhan perusahaan.
Richard Cantillon, seorang ekonom dan penulis pada tahun 1700 an, menyadari kesalahan Law. Cantillon mengembangkan 1 dari teori awal kewirausahaan dan dipandang sebagai salah satu penemu istilah tersebut.
d.      Abad 18
Pada abad 18 seseorang mempunyai modal dibedakan dari orang yang membutuhkan modal. Dengan kata lain, pengusaha dibedakan menjadi peminjam modal (yang sekarang dikenal sebagai pemodal ventura). Alasan pembedaan ini adalah industrialisasi. Banyaknya penemuan yang berkembang selama periode ini, seperti kasus penemuan Eli Whitney dan Thomas Eddison. Baik Whitney maupun Edison telah mengembangkan sebuah teknologi baru dan tidak dapat membiayai sendiri penemuan mereka. Jika Whitney membiayai pemintal katunnya dengan harta keerajaan yang dipisahkan, maka Edison memperoleh modal dari sumber pribadi untuk mengembangkan percobaan dalam bidang listrik dan kimia. Edison dan Whitney adalah pengguna modal (pengusaha), bukan pneyedia (pemodal ventura).
e.       Abad 19
Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, pengusaha seringkali tidak dibedakan dengan manager dan seringkali dipandang sebagai ekonomi.
      Singkatnya, pengusaha mengorganisasi dan mengoperasikan perusahaan untuk keuntungan pribadi. Ia membayar pada harga sekarang untuk bahan baku yang dibutuhkan, tanah yang dipakai, jasa orang yang dipekerjakan, dan modal yang dipakai. Ia sendiri member kontribusi dalam bentuk inisiatif, kemampuan, serta kecerdasan membuat rencana, mengorganisasi, dan menjalankan perusahaan. Ia juga menanggung konsekuensi mendapatkan untung atau mengalami kerugian dari kondisi yang tidak diprediksi dan tidak terkendali. Sisa bersih dari pendapatan perusahaan setelah seluruh biaya dibayar, akan ditahan untuk dirinya sendiri.
      Andrew Carnegie adalah salah satu contoh terbaik dari definisi tersebut. Pada pertengahan abad ke 20, muncul istilah pengusah sebagai innovator (interpreneur as an):
      Fungsi seorang pengusaha adalah mereformasi atau merevolusi pola produk dengan mengeksploitasi sebuah penemuan, atau secara umum sebuah metode teknologi produksi komoditas baru yang belum dicoba atau memproduksi produk lama dengan cara baru, membuka sebuah sumber pasokan bahan baku yang baru atau sebuah gerai baru untuk produk, dengan mengorganisasi sebuah industri baru.
Dalam defenisi ini konsep inovasi dan pemutakhiran adalah sebuah bagian yang integral dari subuah kewirausahaan seperti Edward Harriman yang mengorganisasikan kembali jalan kereta Ontario dan Southern melalui Northern Passific Trust, serta John Pierpont Morgan, yang mengembangkan bank yang besar dengan mengorganisasi ulang dan membiayai industri-industri nasional.

B.     Pengertian Kewirausahaan
Arif F. Hadipranata, wirausaha adalah sosok pengambil risiko yang diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima keuntungan financial ataupun non uang. Drucker menilai wirausaha secara umum dalam arti jiwa atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti adanya keinginan untuk melakukan perubahan, dan sifat harus terhadap sesuatu yang baru. Kathleen mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang mengatur, menjalankan, dan menanggung risiko bagi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya dalam dunia usaha. Anwar Gozally mengartikan wirausaha sebagai seorang yang mengambil tanggung jawab untuk menciptakan atau memperkenalkan gagasan baru yang disebut innovasi. Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship, dan entrepreneurial, dan entrepreneur.
1.      Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur.
2.      Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
3.      Wirausahawan (entrepreneur) didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru.
4.      Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.




Pengertian entrepreneurship menurut para ahli adalah sebagai berikut:
·            Peter F Drucker : Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different).
·            Thomas W Zimmerer : Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari.
·            Andrew J Dubrin : Seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business).
·            Robbin & Coulter : Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.
·            Jean Baptista Say (1816): Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
·            Frank Knight (1921): Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.
·            Joseph Schumpeter (1934): Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
·            Penrose (1963): Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
·            Harvey Leibenstein (1968, 1979): Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
·            Israel Kirzner (1979): Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio: Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.

Jadi dari definisi Entrepreneurship diatas terdapat 3 tema penting yang dapat di identifikasi:
1.      Pursuit Of Opportunities, (entrepreneurship adalah berkenaan dengan mengejar kecenderungan dan perubahan-perubahan lingkungan yang orang lain tidak melihat dan memperhatikannya).
2.      Innovation, (entrepreneurship mencakup perubahan perombakan, pergantian bentuk, dan
memperkenalkan pendekatan-pendekatan baru. Yaitu produk baru atau cara baru dalam melakukan bisnis).
3.      Rowth (Pasca entrepreneur mengejar pertumbuhan, mereka tidak puas dengan tetap kecil atau tetap dengan ukuran yang sama. Entrepreneur menginginkan bisnisnya tumbuh dan bekerja keras untuk meraih pertumbuhan sambil secara berkelanjutan mencari kecenderungan dan terus melakukan innovasi produk dan pendekatan baru .

C.    Peran Kewirausahaan Dalam Bidang Ekonomi
Peran kewirausahaan dalam perkembangan ekonomi meliputi lebih dari sekedar peningkatan ouput dan pendapatan per kapita; di dalamnya mencakup prakarsa dan penetapan perubahan dalam structur bisnis dan masyarakat. Perubahan ini selaras dengan pertumbuhan dan peningkatan output, yang memungkinkan kekayaan dibagikan pada sejumlah partisipan. Satu teori pertumbuhan ekonomi memperlihatkan inovasi sebagai kunci, bukan hanya dalam pengembangan produk (jasa) baru untuk pasar, tetapi juga dalam menstimulasi ketertarikan investasi dalam bisnis baru yang dibentuk. Investasi baru ini bekerja baik pada sisi permintaan maupun sisi penawararan dari persamaan pertumbuhan; modal baru yang dibentuk memperluas kapasitas untuk tumbuh (sisi penawaran), serta pengeluaran baru yang dihasilkan memanfaatkan kapasitas baru dan output (sisi permintaan)
Sekalipun investasi dan inovasi dalam perkembangan ekonomi dalam satu wilayah sangat penting, pemahaman tentang proses evolusi produk masih sangat kurang. Ini adalah proses yang harus dilalui dimana inovasi dikembangkan dan dikormersialkan dengan aktivitas kewirausahaan yang kemudian merangsang pertumbuhan ekonomi.
Dalam hal ini, pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial. Pemerintah merupakan salah satu mediator untuk mengomersialkan hasil perpaduan antara kebutuhan social dan teknologi yang sering disebut sebagai transfer teknologi. Meskipun pemerintah memiliki sumber daya dana untuk mentransfer teknologi ke dalam pasar secara sukses, pemerintah tidak mempunyai ketrampilan bisnis khususnya dalam pemasaran dan distribusi yang dibutuhkan untuk komersialisasi secara sukses


DAFTAR PUSTAKA

Adair, J. 1996. Effective Innovation. How to Stay Ahead of the Competition. London: Pan Books
Byrd, J & Brown, P.L. 2003. The Innovation Equation. Building Creativity and Risk Taking in Your Organization. San Fransisco: Jossey-Bass/Pfeiffer. A Wiley Imprint. www.pfeiffer.com
De Jong, J & Hartog, D D. 2003. Leadership as a determinant of innovative behaviour. A Conceptual framework. http://www.eim.net/pdf-ez/H200303.pdf. 21 April 2006
De Jong, JPJ  & Kemp, R. 2003. Determinants of Co-workers’s Innovative Behaviour: An Investigation into Knowledge Intensive Service. International Journal of Innovation Management. 7 (2)  (Juni 2003) 189 - 212. Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret 2005.
Janssen, O. 2003. Innovative Behaviour and Job Involvement at the Price Conflict and Less Satisfactory Relations with Co-workers. Journal of Occupational and Organizational Psychology. 76. 347 - 364. Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret 2005.
Scott, S. G & Bruce, R. A. 1994. Determinants of Innovative behavior: A Path Model Of Individual Innovation in the Workplace.  Academy of Management Journal.. 37 (3) 580-607. Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar