Sabtu, 15 Januari 2011

POSTPARTUM

ADAPTASI PSIKOLOGIS DAN FISIOLOGIS PADA IBU POSTPARTUM

A.    PENGERTIAN
Postpartum adalah masa dimana tubuh menyesuaikan diri baik fisik maupun psikologis terhadap proses melahirkan. Dimulai satu jam setelah melahirkan sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna.
Postpartum pada Ibu melahirkan sering disebut juga sebagai masa Nifas pada ibu melahirkan. Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
Selama watu setelah melahirkan hingga 6 minggu kemudian tersebut perubahan-perubahan Fisiologis dan psikologik terjadi selama kehamilan kembali ke keadaan tidak hamil. Masa ini juga merupakan masa wanita tersebut mengambil alih tanggung jawab perawatan bayi yang masih sangat memerlukan perhatian dan bergantung pada orang lain tersbut. Masa ini dapat menimbulkan masalh, pertama jika ia mendapt kesulitan dalam menyusaikan diri menjadi seorang ibu.
  1. PERIODE NIFAS
·         Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri atau berjalan dan boleh bekerja setelah 40 hari.
·         Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
·         Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selain hamil/waktu mengalami komplikasi.

  1. PERUBAHAN FISIK PADA IBU POSTPARTUM
Selama melahirkan, saluran reproduktif anatominya kembali ke keadaan tak normal. Yang meliputi perubahan struktur permanen pada serviks, vagina, dan perineum sebagai akibat persalinan dan kelahiran, yaitu:
  1. Uterus (rahim)
Setelah melahirkan, rahim mengalami proses involusi pada hari ke 10-19, uterus dengan berat sekitar 350 gram tidak teraba lagi, setelah 40 hari kembali pada keadaan semula dengan berat 80-100 gram . bekas plasenta(ari-ari) yang tertanam dalam uterus akan mengecil karena kontraksi rahim dan kembali ke keadaan semula selama masa nifas. (Mellyna.2003:22)
  1. Serviks
Serviks menjadi tebal,kaku dan masih terbuka sampai 3 hari, namun ada juga yang berpendapat sampai 1 minggu bentuk mulut serviks yang bulat akan menjadi agak memanjang dan akan kembali normal 3-4 bulan.
  1. Vagina
Vagina yang membengkak dan lipatannya (rugae) yang hilang akan kembali seperti semula setelah 3-4 minggu.
  1. Abdomen(perut)
Perut akan menjadi lembek dan kendur, proses involusi pada perut sebaiknya diikuti dengan olahraga atau senam penguatan otot-otot perut. Jika ada garis-garis biru (striae) tidak akan hilang, tetapi hanya berubah warna menjadi keputih-putihan.
  1. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan proklatin pada hari I – III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2 – 3 hari, putting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1 – 2 hari
      6. Kulit
Setelah melahirkan, pigmentasi akan menurun sehingga hyperpigmentasi pada muka, payudara, dll akan menghilang perlahan-lahan kembali seperti semula.


ADAPTASI FISIOLOGIS PADA IBU POSTPARTUM
Adaptasi Fisiologis post Partum Akhir dari persalinan, hampir seluruh sistem tubuh mengalami perubahan secara progresif. Semua perubahan pada ibu post partum perlu dimonitor oleh perawat, untuk menghindari terjadinya komplikasi. Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Tanda-Tanda Vital
Suhu peroral pada 24 jam pertama setelah melahirkan kurang dari 38 derajat Celsius. Bila lebih selama dua hari atau sepuluh hari berturut-turut, harus dicurigai adanya sepsis puerpuralis, infeksi saluran kemih, endometriosis, mastitis atau infeksi lainnya
2.      Sistem Respirasi
Penggunaan obat-obat anesthesia umum selama proses pembedahan menyebabkan perubahan kecepatan frekuensi, kedalaman dan pola respirasi. Setelah operasi mungkin terjadi penumpukan secret pada jalan nafas yang menyebabkan perubahan pola nafas, juga suara tambahan berupa rales. Hal ini tidak ditemukan pada anesthesia spinal. Sedangkan peningkatan respirasi mungkin terjadi sebagai respon klien terhadap adanya nyeri.
3.      Sistem Cardiovaskuler
Selama masa kehamilan dan persalinan sistem cardiovaskuler banyak mengalami perubahan antara lain :
·         Tekanan Darah
Tekanan darah tetap stabil. Terjadi penurunan tekanan sistolik 20 mmHg atau lebih pada saat klien berubah posisi dari terlentang ke posisi duduk. Hal ini menggambarkan Hipotensi Ortostatik, dan merupakan gangguan sementara pada kompensasi kardiovaskuler terhadap penurunan tekanan vaskuler pada panggul.
·         Berkeringat dan menggigil
Klien dpt menggigil segera setelah melahirkan, hal ini disebabkan karena instabilitas vasomotor, bila tidak disertai panas hal ini tidak berarti.
Untuk mengeluarkan jumlah cairan yg banyak, sisa-sisa pembakaran banyak dikeluarkan melalui keringat dan sering terjadi pada malam hari.


·         Cardiak Output
Penurunan cardiac output menyebabkan bradikardi (50-70x/menit) pada hari pertama setelah persalinan. Bila frekuensi denyut nadi cepat mengindikasikan adanya perdarahan, kecemasan, kelelahan, infeksi penyakit jantung, dapat terjadi hipotensi orthostatik dengan penurunan tekanan systolic kurang lebih 20 mmHg yang merupakan kompensasi pertahanan tubuh untuk menurunkan resistensi vaskuler sebagai akibat peningkatan tekanan vena. Biasanya ini terjadi beberapa saat setelah persalinan, dan saat pertama kali melakukan mobilisasi (ambulasi). Bila terjadi penurunan secara drastic merupakan indikasi terjadinya perdarahan uteri.
·         Volume dan Konsentrasi Darah
Pada 72 jam pertama setelah persalinan banyak kehilangan plasma dari pada sel darah. Selama persalinan erithropoesis meningkat menyebabkan kadar hemoglobin menurun dan nilainya akan kembali stabil pada hari keempat post partum. Jumlah leukosit meningkat pada early post partum hingga nilainya mencapai 30.000/mm3 tanpa adanya infeksi. Apabila peningkatan lebih dari 30 % dalam 6 jam pertama, maka hal ini mengindikasikan adanya infeksi.
Jumlah darah yang hilang selam persalinan sekitar 400-500 ml. Pada klien post partum dengan seksio sesarea kehilangan darah biasanya lebih banyak dibanding persalinan normal (600-800 cc).
4.      Sistem Gastrointestinal
Pada klien dengan post partum seksio sesarea biasanya mengalami penurunan tonus otot dan motilitas traktus gastrointestinal dalam beberapa waktu. Pemulihan kontraksi dan motilitas otot tergantung atau dipengaruhi oleh penggunaan analgetik dan anesthesia yang digunakan, serta mobilitas klien. Sehingga berpengaruh pada pengosongan usus. Secara spontan mungkin terhambat hingga 2-3 hari. Selain itu klien akan merasa pahit pada mulut karena dipuasakan atau merasa mual karena pengaruh anesthesia umum. Sebagai akibatnya klien akan mengalami gangguan pemenuhan asupan nutrisi serta gangguan eliminasi BAB. Klien dengan spinal anesthesia tidak perlu puasa sebelumnya.
5.      Sistem Reproduksi
·         Payudara
Setelah persalinan behubung lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum, maka estrogen dan progesterone berkurang, prolaktin akan meningkat dalam darah yang merangsang sel-sel acini untuk memproduksi ASI. Keadaan payudara pada dua hari pertama post partum sama dengan keadaan dalam masa kehamilan. Pada hari ketiga dan keempat buah dada membesar, keras dan nyeri ditandai dengan sekresi air susu sehingga akan terjadi proses laktasi. Laktasi merupakan suatu masa dimana terjadi perubahan pada payudara ibu, sehingga mampu memproduksi ASI dan merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik, saraf dan berbagai macam hormon sehingga ASI dapat keluar.
·         Involusi Uterus
Segera setelah plasenta lahir, uterus mengalami kontraksi dan retraksi ototnya akan menjadi keras sehingga dapat menutup/menjepit pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas inplantasi plasenta. Proses involusi uterus terjadi secara progressive dan teratur yaitu 1-2 cm setiap hari dari 24 jam pertama post partum sampai akhir minggu pertama saat tinggi fundus sejajar dengan tulang pubis. Pada minggu keenam uterus kembali normal seperti keadaan sebelum hamil kurang lebih 50-60 gram. Pada seksio sesarea fundus uterus dapat diraba pada pinggir perut. Rasa tidak nyaman karena kontraksi uterus bertambah dengan rasa nyeri akibat luka sayat pada uterus terjadi setelah klien sadar dari narkose dari 24 jam post operasi.
·         Endometrium
Dalam dua hari post partum desidua yang tertinggal dan berdiferensiasi menjadi 2 lapisan, lapisan superficial menjadi nekrotik dan terkelupas bersama lochea. Sedangkan lapisan basah yang bersebelahan dengan miometrium yang berisi kelenjar tetap utuh dan merupakan sumber pembentukan endometrium baru. Proses regenerasi endometrium berlangsung cepat. Seluruhnya endometrium pulih kembali dalam minggu kedua dan ketiga.

·         Cerviks, Vagina, Vulva, Perineum
Pada persalinan dengan seksio sesarea tidak terdapat peregangan pada serviks dan vagina kecuali bila sebelumnya dilakukan partus percobaan serviks akan mengalami peregangan dan kembali normal sama seperti post partum normal. Pada klien dengan seksio sesarea keadaan perineum utuh tanpa luka.
Setelah melahirkan Perinium mengalami kerusakan atau utuh. Kerusakan ini dapt diperbaiki, tetapi edema jaringan yang terjadi mungkin menetap samapi beberapa hari. Dinding vagina bengkak, kebiruan dan menonjol. Tonusnya cepat pulih kembali meskipun masih fragil samapi satu atau dua minggu.
·         Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari dalam rahim terutama luka bekas inplantasi plasenta yang keluar melalui vagina. Lochea merupakan pembersihan uterus setelah melahirkan yang secara mikroskopik terdiri dari eritrosit, kelupasan desidua, sel-sel epitel dan bakteri yang dikeluarkan pada awal masa nifas. Lochea dibagi berdasarkan warna dan kandungannya yaitu :
  • Lochea Rubra.Keluar pada hari pertama sampai hari ketiga post partum. Warna merah terdiri dari darah, sel-sel desidua, vernik caseosa, rambut lanugo, sisa mekonium dan sisa-sisa selaput ketuban.
  • Lochea Serosa. Mengandung sel darah tua, serum, leukosit dan sisa-sisa jaringan dengan warna kuning kecoklatan, berlangsung hari keempat dan kesembilan post partum.
  • Lochea Alba.Berwarna putih kekuningan, tidak mengandung darah, berisi sel leukosit, sel-sel epitel dan mukosa serviks. Dimulai pada hari ke-10 sampai minggu ke 2-6 post partum (Cuningham, 195 : 288).Perdarahan lochea menunjukan keadaan normal. Jika pengeluaran lochea berkepanjangan, pengeluaran lochea tertahan, lochea yang prulenta (nanah), aras nyeri yang berlebihan, terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber perdarahan dan terjadi infeksi intra uterin.
6.      Sistem Endokrin
Kaji kelenjar tiroid, adakah pembesaran pada kelenjar tiroid, pembengkakan kelenjar getah bening dan kaji .juga pengeluaran ASI dan kontraksi uterus.
7.      Sistem Perkemihan
Kesulitan miksi mungkin terjadi dalam 24 jam setelah melahirkan karena reflex penekanan aktivitas detrusor yang disebabkan oleh tekanan pada basis kandung kemih selama melahirkan.
Kira-kira 10% wanita dalam masa nifas mengalami inkontinensia urin ( biasanya berupa “Inkontinensia stress”)
8.      Sistem Persarafan
Sistem persarafan pada klien post partum biasanya tidak mengalami gangguan kecuali ada komplikasi akibat dari pemberian anesthesia spinal atau penusukan pada anesthesi epidural dapat menimbulkan komplikasi penurunan sensasi pada ekstremitas bawah. Klien dengan spinal anesthesia perlu tidur flat selama 24 jam pertama. Kesadaran biasanya
9.       Sistem Integumen
Cloasma/hyperpigmentasi kehamilan sering hilang setelah persalinan akibat dari penurunan hormon progesterone dan melanotropin, namun pada beberapa wanita ada yang tidak menghilang secara keseluruhan, kadang ada yang hyperpigmentasi yang menetap. Pertumbuhan rambut yang berlebihan terlihat selama kehamilan seringkali menghilang setelah persalinan, sebagai akibat dari penurunan hormon progesterone yang mempengaruhi folikel rambut sehingga rambut tampak rontok.
10.  Sistem Muskuloskletal
Selama kehamilan otot abdomen teregang secara bertahap, hal ini menyebabkan hilangnya kekenyalan otot pada masa post partum, terutama menurunnya tonus otot dinding dan adanya diastasis rektus abdominalis. Pada dinding abdomen sering tampak lembek dan kendur dan terdapat luka/insisi bekas operasi, secara berangsur akan kembali pulih, selain itu sensasi ekstremitas bawah dapat berkurang selama 24 jam pertama setelah persalinan, pada klien post partum dengan seksio sesaria, hal ini terjadi bila dilakukan regio anestesi dapat terjadi pula penurunan kekuatan otot yang disebabkan oleh peregangan otot.
11.  Sistem pencernaan
Beberapa wanita mengalami konstipasi pada masa nifas, namun kebanyakan kasus sembuh secara spontan; jika tidak, dapat diberikan supositoria biskodil pe rectal untuk melunakkan tinja. Wanita yang menderita hemoroid selama kehamilan sering mengeluh bahwa mereka lebih merasakan nyeri pada masa postpartum. 1 dari 20 wanita mengalami hemaroid untuk pertama kali sewaktu melahirkan, tetapi kebanyakan kasus akan hilang dalam waktu 2 atau3 minggu.
PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA IBU POSTPARTUM
Perubahan emosi selama masa post partum memiliki berbagai bentuk dan variasi. Kondisi ini akan berangsur – angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan.
  1. Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan, ibu post partum berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat. Sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari.
  2. Pada 3 – 10 hari setelah melahirkan, post natal blues biasanya muncul, biasanya disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataannya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari kelima. Post natal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya.
  3. Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal.
Fase honey moon adalah fase setelah anak lahir dimana terjadi intiminasi dan kontak yang lama antara ibu-ayah-anak. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai psikis honey moon, dimana tidak memerlukan hal-hal yang romantis secara biologis. Masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hal yang baru.
Ikatan kasih ( bondingn & attachment ) terjadi pada kala IV, dimana diadakan antara ibu-ayah-anak, dan tetap dalam ikatan kasih.
Perubahan psikologis selama post partum menurut Rubin (1977) Terdiri Dari :
·         Fase Taking In ( Periode tingkah laku ketergantungan )
Perhatian klien terutama terhadap kebutuhan dirinya, mungkin pasif dan tergantung berlangsung selama 1-2 hari. Klien tidak mengingninkan kontak dg bayinya tetapi bukan berarti tidak memperhatikan. Dalam fase ini yg diperlukan klien adalah informasi tentang bayinya, bukan cara merawat bayi.
·         Fase Taking Hold ( Periode antara tingkah laku mandiri dan ketergantungan )
Klien berusaha mandiri dan berinisiatif, perhatian lebih kepada kemampuan mengatasi fungsi tubuhnya, misalnya kelancaran BAK, BAB, melakukan berbagai aktifitas ; duduk, jalan, dan keinginan untuk belajar tentang perawatan dirinya sendiri dan bayinya.
·          Fase Letting go (fase mampu sendiri)
Fase ini antara dua sampai empat minggu setelah persalinan dimana ibu mulai menerima peran barunya yaitu sebagai ibu dari bayi yang baru lahir. Ibu melepas bayangan persalinan dengan harapan yang tidak terpenuhi serta mapu menerima kenyataan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST PARTUM
PENGKAJIAN
1.      Biodata  Klien
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
2.      Keluhan Utama
Biasanya klien masih mengeluh perutnya terasa mules.
3.      Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah klien dulu pernah menderita perdarahan setelah melahirkan.
4.       Riwayat Penyakit Keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah diderita oleh keluarga.
KONSEP DIRI
Sikap penerimaan ibu terhadap tubuhnya, keinginan ibu menyusui, persepsi ibu tentang tubuhnya terutama perubahan-perubahan selama kehamilan, perasaan klien bila mengalami operasi SC karena CPD atau karena bentuk tubuh yang pendek.
SEXUAL
Bagaimana pola interaksi dan hubungan dengan pasangan meliputi freguensi koitus atau hubungan intim, pengetahuan pasangan tentang seks, keyakinan, kesulitan melakukan seks, continuitas hubungan seksual. Pengetahuan pasangan kapan dimulai hubungan intercourse pasca partum (dapat dilakukan setelah luka episiotomy membaik dan lochia terhenti, biasanya pada
akhir minggu ke 3).
POLA NUTRISI
Pola menu makanan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (Kalori, protein, vitamin, tinggi serat), freguensi, konsumsi snack (makanan ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, freguensi,.
POLA ISTIRAHAT/TIDUR
Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-remang atau gelap, apakah mudah terganggu dengan suarasuara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
POLA ELIMINASI
Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine
karena rasa talut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
PERSONAL HYGIENE
Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut dan wajah
POLA AKTIVITAS
Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan, kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan bekerja dan menyusui.
PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Tingkat energi, self esteem, tingkat kesadaran.
2. BB, TB, LLA, Tanda Vital normal (RR konsisten, Nadi cenderung bradicardy, suhu 36,2-38, Respirasi 16-24)
3. Kepala : Rambut, Wajah, Mata (conjunctiva), hidung, Mulut, Fungsi pengecapan; pendengaran, dan leher.
4. Breast : Pembesaran, simetris, pigmentasi, warna kulit, keadaan areola dan puting susu, stimulation nepple erexi. Kepenuhan atau pembengkakan, benjolan, nyeri, produksi laktasi/kolostrum. Perabaan pembesaran kelenjar getah bening diketiak.
5. Abdomen : teraba lembut , tekstur Doughy (kenyal), musculus rectus abdominal utuh (intact) atau terdapat diastasis, distensi, striae. Tinggi fundus uterus, konsistensi (keras, lunak, boggy),
lokasi, kontraksi uterus, nyeri, perabaan distensi blas.
6. Anogenital
Lihat struktur, regangan, udema vagina, keadaan liang vagina (licin, kendur/lemah) adakah hematom, nyeri, tegang. Perineum : Keadaan luka episiotomy, echimosis, edema, kemerahan, eritema, drainage. Lochia (warna, jumlah, bau, bekuan darah atau konsistensi , 1-3 hr rubra, 4-10 hr serosa, > 10 hr alba), Anus : hemoroid dan trombosis pada anus.
7. Muskoloskeletal : Tanda Homan, edema, tekstur kulit, nyeri bila dipalpasi, kekuatan otot.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri akut
  2. Resiko cedera
  3. Cemas
NO
NANDA
NOC
NIC
1.
Nyeri akut
Definisi :
Serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang di antisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan
Batasan karakteristik
ü  peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.
ü  Adanya laporan nyeri secara verbal dan non verbal
ü  Nafsu makan menurun
ü  Mual, muntah


Tingkat kenyamanan
  Indikator:
ü  Melaporkan kondisi fisik yang membaik
ü  Melaporkan kondisi psikologis yang membaik
ü  Mengekspresikan kegembiraan terhadap lingkungan sekitar
ü  Mengekspresikan kepuasan dengan control nyeri

Kontrol Nyeri
  Indikator:
ü  Mengenal factor penyebab
ü  Mengenal serangan nyeri
ü  Mengenal gejala nyeri
ü  Melaporkan control nyeri

Tingkat Nyeri
  Indicator:
ü  Melaporkan nyeri
ü  Frekuensi nyeri
ü  Ekspresi wajah karena nyeri
ü  Perubahan tanda-tanda vital



Manajemen nyeri
ü  kaji tipe intensitas, karakteristik dan lokasi nyeri
ü  kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgesik
ü  anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang
ü  atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman.
ü  ajarkan klien teknik relaksasai dan nafas dalam
ü  anjurkan klien menggunakan mekanisme koping yang baik disaat nyeri terjadi
ü  Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO
ü  Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
ü  Hilangkan atau kurangi sumber nyeri
Pemberian analgesik
ü Berikan analgesik sesuai order dokter.
ü Perhatikan resep obat, nama pasien, dosis dan rute pemberian secara benar sebelum pemberian obat.


2.
Resiko cedera
1.      Pengetahuan : Keamanan Pribadi
Indikator:
  • Deskripsi tindakan mencegah jatuh
  • Deskripsi tindakan keamaan di rumah
2.      Perilaku Keamanan : Pencegahan Jatuh
Indikator:
  • Penggunaan alat bantu yang benar
  • Tempatkan pelindung mencegah jatuh  Gunakan penahan bila perlu
3.      Kontrol Gejala
Indikator:
  • Mengenal permulaan gejala
  • Mengenal gejala menetap
  • Mengenal kepelikan gejala
  • Mengenal frekuensi gejala
  • Mengenal variasi gejala
  • Gunakan tindakan pencegahan 
  • Gunakan tindakan mengurangi gejala
  • Gunakan tanda peringatan utk mencari pelayanan kesehatan
  • Gunakan sumber yg tersedia
  •  Laporkan pengontrolan gejala
1.      Pencegahan Jatuh
ü  Identifikasi karakteristik lingkungan yang mungkin meningkatkan potensi untuk jatuh (misal ,lantai licin dan jenjang yang terbuka)
ü  Pantau kecepatan, keseimbangan, dan tingkat kelelahan saat berjalan
ü  Bantu individu yang tak kuat berdiri dengan berjalan
ü  Sediakan alat bantu (misal, tongkat dan alat bantu berjalan) untuk gaya berjalan yang kokoh
ü  Pelihara alat bantu supaya berfungsi dengan baik
ü  Instruksikan pasien agar memanggil bantuan dalam bergerak  jika diperlukan
ü  Ajarkan anggota keluarga tentang faktor-faktor resiko yang memberi kontribusi untuk jatuh dan bagaimana mereka bisa mengurangi risiko ini
2.      Pengawasan: Keamanan
ü  Pantau perubahan fungsi fisik pasien yang menyebabkan perilaku yang membahayakan
ü  Pantau lingkungan yang berpotensi membahayakan keamanan
ü  Tentukan derajat pengawasan yang dibutuhkan pasien, berdasarkan tingkat, fungsi dan kehadiran bahaya dalam lingkungan



PENDIDIKAN KESEHATAN UNTUK IBU POSTPARTUM
a.       Melakukan fisioterapi postpartum
b.      Memberikan ASI ekslusif pada bayi
c.       Melakukan senam hamil
d.      Melaksanakan KB untuk mengatur jarak kelahiran bayi dan untuk kesehatan ibu,bayi, dan keluarga.
e.       Membawa bayi untuk imunisasi.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar